Jalan-Jalan ke Solo

Pernah Ke Solo, tinggal di Solo atau sekadar dengar cerita tentang Solo? Abadikan kesan dan pengalamanmu tentang Kota Solo dan tuangkan dalam sebuah tulisan.

Image

Image

“Mau lewat jalan pintas atau Kota Solo?” itu adalah pertanyaan yang kerap kali ayahku tanyakan ketika kami sekeluarga akan memasuki kota Solo sebagai rute perjalanan menuju kampungku di Ngawi, Jawa Timur. Dengan hati suka cita, aku berteriak sebisaku, “Lewat kota Solo!”

Ada banyak alasan yang menyebabkanku menginginkan lewat kota Solo. Pertama, karena kesukaanku pada kereta api. Solo memiliki kereta api yang berbeda dari kereta api yang biasa digunakan transportasi untuk mudik yaitu Kereta Api Uap Jaladara. Kereta ini menakjubkan. Ketika aku melihatnya pertama kali, aku melihatnya dengan mulut ternganga. Bagaimana tidak? Kereta yang biasa aku lihat adalah kereta yang berjalan melewati rel dibalik hutan, gunung, jembatan dan tempat yang tak terekspos masyarakat umum dan memiliki kecepatan rata-rata 90 km/jam. Kali ini aku melihat kereta yang berjalan lambat di rel tengah kota dan di antara masyarakat kota Solo yang sedang menikmati keindahan dan kebersihan kota Solo! Jika dilihat, fungsinya sama dengan kereta lucu khas anak-anak untuk berwisata mengelilingi kota. Tetapi ingat! Itu hanya fungsinya, tetapi siapa sangka perawakannya sama seperti kereta-kereta uap yang berada di stasiun namun hanya memiliki dua gerbong.

Kereta Api Uap Jaladara adalah kereta yang tentu saja memakai uap untuk menjalankannya. Sehingga dibutuhkan banyak air untuk didapatkan uapnya. Menurut Wikipedia, kereta ini dijalankan dengan lokomotif uap C1218, dan beroperasi di jalur kereta api Stasiun Purwosari sampai Stasiun Solo Kota sepanjang 6 km. Jalan rel itu tepat bersisian dengan Jalan Slamet Riyadi yang merupakan jalan utama di tengah Kota Solo. Kereta api ini dioperasikan berkat kerjasama antara PT Kereta Api dan Pemerintah Kota Surakarta.

Kereta dijadwalkan untuk dioperasikan pada akhir pekan (Sabtu – Minggu) dan/atau hari libur nasional. Sabtu : jam 16.30 WIB dari Stasiun Purwosari Minggu : jam 09.30 WIB dari Stasiun Purwosari Calon penumpang diminta hadir paling lambat 30 menit sebelum jam keberangkatan.

Ngomong-ngomong, aku pertama kali melihat kereta ini saat berada di depan Pusat Grosir Solo atau yang biasa disingkat masyarakat Solo dan sekitarnya sebagai PGS.

PGS merupakan pusat perbelanjaan utama di kota Solo. Terutama kain khas Solo yaitu batik. Di sini, kita bisa membeli batik dalam bentuk eceran maupun grosir. Tahukah apa yang aku dan ibuku lakukan saat sudah berada di dalamnya? Sebagai kaum hawa yang lemah namun kuat saat berbelanja, kami berdua akan mengelilingi dan mengunjungi tiap kios yang menjualkan berbagai macam bentuk design batiknya. Harganya terjangkau. Aku sering melihat online shop menjajakan tas batik seharga Rp. 95.000,00. Di sini, aku mendapatkan tas serupa hanya dengan harga Rp. 50.000,00. Ayahku sampai ikut-ikutan ‘ngeborong’. Katanya, lumayan untuk dijual kembali dengan harga online shop.

Setelah takjub dengan kereta tengah kota dan berencana menaikinya kapan-kapan -kapan-kapannya itu kapan ya?- dan lelah mengelilingi PGS, energi habis terkuras dan lapar. Dan karena kebetulan saat malam hari, Galebo sudah buka!!

Apa itu Galebo? Galebo adalah singkatan dari Gladak Langen Bogan. Disini adalah surganya pariwisata kuliner malam di kota Solo. Berbagai macam makanan dijajakan oleh kios-kios makanan disini. Mulai dari makanan tradisional sampai makanan masyarakat umum. Tempatnya bersih dan tertib. Pemandangan sekitarnya juga tidak membosankan, karena berada di jalan raya kota Solo yaitu Jl. Mayor Sunaryo. Galebo selalu dibuka saat malam hari. Kenapa? Karena pada siang hari wilayah ini dipakai sebagai jalan raya biasa.

Solo adalah tempat wisata kuliner yang tidak boleh dilewatkan. Makanan khas Solo memiliki keunikan tersendiri. Contohnya nasi liwet yang mirip nasi uduk, hanya saja diberi tambahan sayur jipang. Jangan lupa juga dengan gudheg ceker. Gudheg ini memiliki rasa gudheg gurih asin berbeda dengan gudheg biasa yang cenderung asin. Ada lagi, pecel ndeso.  Pecel ndeso berbeda juga dengan pecel yang biasa kita kenal. Pecel ndeso menggunakan nasi beras merah dan di tambah aneka sayuran lalu diguyur sambal hitam keputihan berbahan dasar wijen yang memiliki cita rasa pedas, manis dan gurih. Tak lupa diberi tambahan karak atau kerupuk nasi.

Dari makanan berat, kita turun ke makanan sela. Apalagi itu? Makanan sela adalah makanan yang volumenya tidak seberapa besar dan satu porsi tidak membuat kenyang. Seperti makanan pengganjal perut atau penunda lapar. Salah satunya adalah cabuk rambak. Masyarakat Jawa pasti sudah mengetahui apa itu rambak. Kerupuk yang berasal dari kulit sapi atau kambing. Sedangkan cabuk? Cabuk mengarah pada wijen, saus yang ditambahkan pada cabuk rambak nanti.

Cabuk rambak dibuat dari ketupat nasi yang diiris tipis-tipis, lalu disiram dengan saus wijen yang dicampur kemiri dan kelapa parut yang terlebih dulu disangrai, tak lupa ditambah rambak. Namun karena harga rambak sekarang mahal, digantikan dengan karak. Oh ya, cabuk rambak ini sekarang cukup susah ditemukan di kota Solo. Kita dapat menemukan makanan pengganjal ini di Pasar Klewer. Pasar yang dulunya difungsikan sebagai tempat pemberhentian kereta. Disini juga kita dapat menemukan kain-kain batik lho..

Selanjutnya… Srabi!! Siapa yang tak kenal Srabi Notosuman?? Ga gaul ga tau Srabi Notosuman. Awalnya aku mengira nama Notosuman adalah merk sebuah perusahaan pembuat srabi. Namun inilah faktanya. Srabi yang terkenal berasal dari daerah Notokusuman, yang sering disingkat menjadi Notosuman (Srabi Notosuman). Jadi, Notosuman itu adalah nama daerah. Mungkin banyak orang sudah tahu. Hanya aku saja yang belum tahu.

Srabi terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan santan dan digoreng di atas arang mirip pannekoek atau pannenkoek dan dari santan kelapa dicampur dengan sedikit tepung, yang menjadikannya bercitarasa gurih. Biasa juga diberi taburan berupa potongan pisang, nangka atau bahkan meses dan keju bila suka. Jangan lupa, makanan ringan yang biasa masuk kedalam televise! Intip. Intip-intip yuk..

Haha bukan itu. Intip adalah sebutan untuk kerak nasi. Rasanya sangat khas dan gurih walaupun tanpa MSG karena sari dari nasi mengumpul di kerak nasi yang ada di dasar periuk.

Terakhir, minumannya. Yang hangat-hangat ada wedang asle. Minuman yang merupakan racikan antara santan sebagai kuah, dengan ditambahkan agar-agar, gula pasir, dan roti tawar. Hampir sama seperti wedang ronde, bajigur dan cemoe.

Mau yang dingin? Juga ada es dawet. Berbeda dengan Dawet Ayu Banjarnegara, es dawet ini berisi lebih kaya, terdiri dari bubur ketan hitam, bubur sumsum, tape ketan, cendol, dan biji telasih. Jadi, selain menyegarkan, minuman ini sekaligus bisa kenyang.

Tak terasa, seharian di kota Solo membuat pulang kampung keluarga kami tertunda. Mau tak mau kami harus pergi meninggalkan kota Solo. Aku sangat ingat apa yang kakakku katakan, “Ini nih hasil pemerintahan Pak Jokowi. Nanti Jakarta semoga juga jadi seperti kota Solo.” Amiiin Amiin Amiin

“Yah, Besok pulang ke Jakarta mampir ke Solo lagi ya?”

“Wah, tidak bisa janji. Kan Ayah harus kembali bekerja. Jadi tidak bisa lama-lama.”

“Kalau begitu, jika melewati Solo dan aku tertidur, bangunkan aku ya, Yah?”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak mau melewatkan keindahan dan kebersihan kota Solo walau hanya dalam pandangan.”

“Okelah..”

____

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s